That's me, nothing gonna change

Anin menyalakan laptop yang dibawanya, membuka Ms. Word dan mulai mengerjakan tugasnya. Walaupun sekolahnya bukanlah sekolah RSBI yang mengharuskan siswanya membawa laptop, tapi Anin sering membawa laptopnya ke sekolah. Bukan tanpa alasan Anin sering membawa laptopnya ke sekolah. Berawal karena tumpukan tugas sekolahnya yang banyak menggunakan fasilitas komputer, maka Anin sering membawa latopnya ke sekolah karena tuntutan tugasnya.

Selain alasan tugas, Anin yang memang malas bergaul memilih laptop untuk menjadi temannya.  Anin memang bukan seorang yang pintar yang bersedia membaca berlembar-lembar buku refrensi, Anin juga bukan orang yang mudah bergaul sehingga bila ada waktu lenggang iya tidak pernah menghabiskan waktunya untuk hanya mengobrol dengan teman-temannya, dan well Anin pun bukan anak culun yang bergaulah dengan anak-anak pendiam lain.

Bagi Anin, menulis, musik, dan novel adalah sahabat-sahabat sejatinya. Merekalah yang bersedia menemaninya dalam keadaan apapun. Anin tidak pernah bisa bersahabat dengan manusia. Bukannya Anin seorang vampire atau setan yang menjelma menjadi manusia. Anin memang manusia hanya saja iya punya masalah dengan susahnya bergaul dengan orang lain. Walaupun sebenarnya Anin seorang yang supel, tapi ia hanya supel untuk suatu keperluan saja. Anin bisa saja menjadi seoarang yang sangat menyenangkan. Tapi sebenarnya Anin kadang merasa kesepian, dan kecewa karena iri melihat teman-temannya yang dapat bersenda gurau dengan asiknya.

Ironis memang, melihat seorang yang sangat supel bisa mengalami kegalauan dalam hal pergaulannya. Tapi memang itulah yang di alami seoarang Aninta Anas. Anin tak pernah bisa terbuka dengan seseorang, Anin juga merasa bahwa kisah hidupnya penuh dengan hal konyol yang tidak pantas ditertawakan dan diceritakan, dan Anin pun tidak pandai bergaul. Karena Anin bukanlah seoarang yang bisa mmeberikan hot topik kepada temantemannya atau menghibur temantemannya dengan ceritacerita lucu. Anin hanyalah seorang hanya menjadi penikmat, pendengar, juga pengkritik.

‘Kita memang bersahabat, tapi kita tidak mengetahui diri kita satu sama lain. Kita memang berpasangan, tapi kita buta terhadap perasaan pasangan kita. Apakah itu yg dinamakan persahabatan dan cinta?’  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah