Langit

Echa menutup Al-Qur’annya dan mencoba untuk tiduran dikasurnya menghadap jendela kamarnya. Baru sedetik iya menjatuhkan tubuhnya, matanya terbius oleh pemandangan langit senja yang membuat Echa kagum.

Langit biru yang mulai gelap dihiasi  awan hitam dan terdapat semburat putih di sekitarnya. Juga bila Echa melihat ke sebelah utaranya, langit bewarna biru toska yang lebih indah dan awan hitam juga semburat putih menghiasianya lagi. Terlihat sepi, sunyi, dan menyeramkan. Berbanding terbalik dengan langit yang ia lihat dari sebelah selatannya. Langitnya di sebelah selatan dihiasi oleh gunung, dan lampulampu perumahan penduduk yang menyala. Sangat berbeda.  Membuat Echa kagum, pemadangan langit yang jarang dilihatnya ini membuat iya termenung lama.

Echa baru menyadari, langit memang lukisan Tuhan yang paling indah. Langit, tidak ada manusia yang dapat menciptakannya. Hanya Tuhan-lah yang bisa. Ia bersyukur Tuhan telah menciptakan langit yang begitu indah dan menyimpan banyak impian, do’a, harapan yang melayanglayang. Yang suatu saat akan jatuh menjadi kenyataan.

Lama sekali Echa menatap langit, mengagumi lukisan Tuhan yang Agung. Sayang sekali Echa tidak bisa mengambil gambarnya. Mungkin bisa, tetapi keindahan langit itu seperti hilang dikamera. Mungkin dibutuhkan kamera bertekhnologi tinggi untuk mengabadikan keindahannya.

Echa teringat akan gambaran tentang keindahan langit yang pernah ia baca pada bukubuku novelnya. Dan gambaran langit yang sangat ia sukai adalah gambaran langit senja di suatu tempat di Eropa. Sekarang, di kamarnya dengan mata yang masih mengagumi keindahan langit senja yang bewarna biru yang mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi hitam. Echa berjanji,’Aku akan melihat lukisan-Mu lagi yaAllah, yang lebih indah di suatu tempat di ujung eropa dekat kutub utara. Dengan biru yang lebih indah, semburat putih yang lebih terang. Pasti aku akan melihatnya, suatu hari nanti. Ijinkan aku yaAllah’.

Sebuah impian terucap dan akan terus naik ke atas langit, melayanglayang dan terus melayang membimbing sang pemimpi mencapai impiannya. Yang pada waktu yang tepat, impian yang telah melayang lama itupun akan turun menjadi kenyataan.

Kehidupan memang fana.  Bagaikan lukisan pemandangan yang sangat indah. Memaksa mata kita untuk terus menatapnya dan mengaguminya. Hidu pun begitu, hidup memaksa kita untuk terus menatap dan mengagumi apa yang disediakan takdir untuk kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah