Hidup? Buat apa?

Gue kadang sering mikir, tujuan kita manusia untuk hidup itu apasih? Untuk menuju akhirat dan menuju kehidupan yang abadi? Memang itulah tujuan utamanya. Tapi apa yang bisa kita lakukan untuk menghabiskan waktu, menunggu giiran kita hidup dalam keabadian itu?

Sungguh lama seseorang mempunyai waktu untuk dihabiskannya. Walaupun umur memang tidak bisa ditebak. Tapi gue rasa kalo kita mati dalam umur 5 tahun saja, itu sudah merupakan waktu yang lama. Lalu bagaimana seorang yang Tuhan beri waktu lebih dari 50 tahun untuk menghabiskan waktunya?

Bila kita lihat,cukup banyak hal yang dapat dilakukan seorang bernama manusia untuk menghamburkan waktunya. Dari mulai ia lahir ke dunia ini, menunggu 1 tahun untuk dapat berjalan dan berbicara atau bahkan lebih. Mempunyai waktu sekitar 4 tahun untuk bermain sepuasnya. Ia pun mempunyai waktu lebih dari 12 tahun untuk menimba ilmu. Sisa waktunya ia dapat gunakan untuk mengejar mimpimimpinya, obsesinya, kebahagiannya, atau apapun yang ia inginkan dalam hidupnya.

Tapi, apakah dalam kisaran waktu itu manusia terus merasa senang hati melakukan apa yang harus dilakukannya? Gue pikir semua manusia pasti akan merasa bosan sesekali, atau bahkan sampai jemu dan akhirnya ingin menghentikan apa yang sedang ia lakukan dan melakukan hal lain yang lebih menyenangkan hatinya.

Contoh sederhananya adalah pedagang. Seorang pedagang kakilima, oh katakanlah dia seorang penjual martabak. Makanan yang sangat digemari semua lapisan manusia. apakah sang penjual selalu senang hati membuat martabakmartabak yang kita pesan itu? Apakah sang penjual tidak mempunyai keinginan untuk hanya berlehaleha saja dirumah ketimbang harus berkutat dengan terigu dan keju? Jawabannya adalah tidak. Contoh lain, lihatlah ibu kita. Ibu yang hanya menjadi Ibu Rumah Tangga, seorang perempuan yang berhati mulia yang setiap harinya menyiapkan segala kebutuhan kita memberi sarapan, membereskan rumah, memasak, mencuci. Oh apakah ibu kita selalu merasa senang setiap hari terus melakukan segala tentang rumah tangga dari a-z? apakah ibu tidak ingin hanya tidur saja dan menonton tv? Apakah ibu tidak ingin berkarya dengan membuat sesuatu yang berharga? Jawabannya tidak.

Kedua contoh tadi, pasti akan merasa jemu dengan apa yang ia kerjakan tiap harinya. Pasti ia ingin melakukan hal yang baru, hal yang tidak ia lakukan tiap harinya. Mereka ingin, oh mereka bertanya mengapa mereka harus melakukan semua itu?

Kadang gue nanya sama diri gue sendiri. buat apa gue belajar, buat apa gue hidup, kenapa bokap betah kerja puluhan taun di tempat kerjanya, kenapa nyokap mau jadi ibu rumah tangga, kenapa guru gue mau jadi guru bertahuntahun dengan memberi mata pelajaran yang ituitu saja. Kenapa?

Pernah gak sih kita sempet kepikiran kaya gitu? Kenapa dan kenapa? Jawabannya simple karena kita ingin terus hidup.

Ya, bila kita tidak mau melakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan bukankah lebih baik kita mati saja? Karena toh tidak ada lagi yang kita harapkan.

Karena itulah kita melakukan serangkaian kegiatan dalam hidup kita. Karena semua itu memang sudah hakikat kita sebagai manusia. makhluk yang hidup, makhluk yang mempunyai akal, dan makhluk yang sudah pasti akan mati. Kita harus melakukan itu sebagai bagian dari hidup kita dan pelajaran bagi kita. Dan semakin banyak hal yang kita lakukan apalagi itu hal yang baik, semakin bertambah pengalaman kita, dan kita pun akan menjadi manusia yang berarti dan kaya akan pengalaman dan pelajaran. Bukan hanya seonggok daging yang mempunyai nama.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah