Tinggal Di mana


Gina! You must have to read this.” Shilla berteriak.”What?” Windy yang sedang asik menghadapi netbooknya merespon dan menerima HPnya yang semula ada ditangan Shilla.
Ternyata, Shilla memperlihatkan rentetan percakapan di sms. Sms-sms Shilla bersama salah satu teman Windy. Karena Windy keasikan main netbook Windy gak sadar kalo HPnya ternyata udah diotakatik sama keponakan palsunya ini.

Shilla, ask to your brother, what does he think bout this. Okay? I got to go now, I’ll leave my phone with you. Okay?” perintah Windy pada Shilla, dan Shilla mengiyakan dengan mengangguk.
Keesokan harinya, saat Windy baru saja selesai mandi satu e-mail masuk pada inboxnya. Isinya dari kaka Shilla yang memintanya menunggu di taman dekat kompleknya. Windy tahu, artinya ia kan bertemu Shilla dan there will be serious discuss.

Hey, whats going on?” Windy membuka percakapan sambil membuat the, minuman wajibnya disaat pagi.
All in your phone. He is interesting” Thian merespon.
Yea I know that. Big thanks to your sister to make him wanna open his mouth for telling his idea. That’s why I leave my phone here.” Windy memberikan alasannya. “Fan, selama gue hidup dan selama gue kenal orang gak pernah tuh ada jawaban bahwa dia rela dinaturalisasi dari Indonesia. Negara tempat dia lahir. Okay mungkin banyak WNI yg akhirnya dinaturalisasi tapi itu gak mulai dari mimpi kan? Kebanyakan gak sengaja.”

People free to make their own dream Win” Jawab Thian sedikit tidak menyetujui argument Windy.”It same like my parents. What for they in Holland? Just business? Lo gak tau bahwa mereka pun di sana wujudin mimpi mereka buat keluar dari Indonesia. Tinggal di luar negeri, ngerasain salju. Itu alasan konyol mereka”

Thi are you serious? I thaught that your parent will back and…………” Windy membelak kaget, dia gak tahu ini. Tepatnya, baru tahu.”Ya serius. Mereka lagi dalam proses buat dinaturalisasi. Cuma mereka, gue masih tetap mau berpasportkan Indonesia, Shilla juga.” Thian menjelaskan.

Okay forget bout that. Thi gue gak abis pikir aja, mimpinya gitu. Disaat banyak generasi muda Indonesia greget pengin memperbaiki Indonesia eeeh ini malah pengin keluar” Windy sedikit jengkel.”Win, orang itu engga ada yang sama. Mungkin lo sering denger orang-orang yang obsessed pengin benerin Indonesia, tapi gak sedikit juga orang yg obsessed pengin di keluar.” Sejenak Thian menghirup teh Inggris yg ada dicangkirnya.”Coba lo ke Singapore aja, negara yang segitu kecilnya tapi modern segala ada. Walaupun segalanya mahal, tapi toh orang Indonesia findnya belanja di sana. Pendidikannya juga bagus. Apa lo gak tertarik buat nerusin aja tinggal di sana? Gue percaya ada lah orang Indonesia yg pengin tinggal di Singapore” jelas Thian.

Mereka berdua diam. Windy mendapat cerita dari teman-temannya, bahwa plesir ke luar negeri selain mendapat banyak buah tangan, juga akan membuat kita menjadi lebih cinta Indonesia dengan segala kekurangannya. Tapi, Thian juga benar orang Indonesia gak sama bahkan beragam. Mungkin, yang udah muak bgt sama keadaan Indonesia memang ada yg ingin imigrasi ke luar.

Sebenarnya, yg sudah ke luar negeri dan mempunyai keinginan untuk merubah negeri ini pun belum terlihat hasil realnya. Itu cumen sebatas omongan antar teman. Jadi mungkin, orang yg gak mau ambil pusing lebih baik berimigrasi saja daripada harus membangun. Karena toh di negri tujuan, tujuannya akan lebih mudah tercapai.

Lagipula, hidup bisa di mana saja asal kita nyaman. Entah itu asal kita dari Indonesia, Singapore, Malaysia, Kanada, bahkan Papua Nugini. Hidup adalah pilihan, kita bebas memilih tempat di mana kita hidup karena itu hak kita. Tempat tinggal, tidak terikat oleh di mana kita lahir tapi di mana kita akan berkembang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah