Sharing, and it feel great when I'm write this


Prestasi bagi saya adalah memenangkan suatu lomba, entah dibidang akademik atau non akademik. Anggapan saya selalu seperti itu, sampai saya tahu prestasi bukan hanya sekedar memenangkan sebuah perlombaan. Prestasi bisa kita dapat di mana saja, dan tidak perlu dilambangkan dengan tropi atau sertifikat. Menurut saya, prestasi itu relatif. Bagi orang tua, prestasi adalah bila melihat anaknya mendapat nilai ulangan tertinggi di kelasnya, atau mendapat rangking satu sampai juara umum di sekolahnya. Begitu juga bagi siswa. Tetapi, prestasi bahkan bisa berupa pencapaian nilai atau skor tertinggi pada sebuah game komputer.
                Sedari kecil, saya termasuk anak yang rajin mengikuti berbagai perlombaan. Fashion, lomba mewarnai, berdo’a, lomba-lomba di acara 17 Agustusan, lomba membaca puisi, dan berbagai lomba lainnya. Saya sangat bersyukur, karena keberuntungan sering mendatangi saya sehingga banyak perlombaan yang saya ikuti dan menang. Kecuali, lomba mewarnai dan lomba-lomba 17 Agustusan saya tidak suka mewarnai dan juga lompat-lompat di atas karung.
                Banyak lomba yang berkesan dipikiran saya, dan sepertinya ingin saya ulangi lagi peristiwanya. Sebagai contoh, saat itu saya duduk di kelas 5 SD dengan status murid baru setahun yang lalu. Kala itu, guru B. Inggris saya menyatakan bahwa saya akan dikutsertakan dalam suatu lomba bercerita B. Inggris. Saya senang sekaligus bingung. Lomba bercerita apalagi dengan bahasa asing, belum pernah saya ikuti sebelumnya.
                Saya menghapal satu cerita berjudul Malin Kundang, yang juga dihapalkan oleh 2 teman saya lainnya. Artikulasi, mimik, improvisasi, gaya bercerita sudah hampir saya kuasai hingga guru saya mengabari bahwa, untuk satu orang harus berbeda ceritanya. Ketika itu, saya sempat ingin mundur. Bagaimana tidak, waktu perlombaan hanya tinggal 1 minggu lagi dan cerita yang dihapalkan lebih dari 10 paragraf full B. inggris belum lagi menentukan improvisasi dan membenarkan artikulasinya.
                Disaat itulah saya pertama kali mengetahui peran guru sebagai orang tua di sekolah. Ia menyemangati saya, memberi tahu bahwa saya mampu menghapalkan seluruh teks cerita berserta improvisasi dan segala sesuatunya. Dari situlah saya termotivasi untuk membuktikan bahwa saya bisa.
                Lomba itu dilaksanakan di sebuah Sekolah Tinggi di Cirebon. Saya yang tinggal di Kuningan harus ijin satu hari dan pergi pada pagi hari. Saya pergi dengan 2 teman lain diantar orang tua dan beberapa guru. Sampai di sana, saya harus berganti kostum menjadi Timun Mas dengan baju bodo dan samping batik. Sambil menunggu, saya melihat anak-anak SMA yang sedang berdebat menggunakan B. Inggris, sempat terlintas dibenak saya bahwa suatu saat saya akan ada di sana juga, berdebat.
                Lomba dimulai, kala itu saya mendapat undian dinomor awal saya lupa tepatnya saya undian keberapa. Di panggung, saya sangat bersemangat, adrenalin saya naik hingga ketitik tertinggi, bercerita di depan dengan mic yang bergetar dengan mimik yang berubah-ubah dengan nafas yang ngos-ngosan. Paragraf demi paragraf saya ceritakan hingga tuntas, improvisasi saya lakukan, komunikasi hingga menatap tajam pada juri pun sudah saya lakukan. Diakhiri dengan senyuman ketika saya mendengar tepuk tangan meriah dan senyuman bangga dari para penonton. Sesudah saya tampil, saya anggap itulah yang terbaik yang dapat saya tampilkan. Menunggu do’a dari yang mendukung dikabulkan oleh Allah SWT.
                Beberapa hari kemudian, saya kembali ke Sekolah Tinggi tersebut menunggu pengumuman lomba. Menunggu jawaban apakah do’a saya, orang tua saya, teman-teman, dan guru-guru dikabulkan oleh Allah?
                Lomba debat, berpidato, dan sampai pada bercerita. Dimulai dari juara 3, bukan saya, bukan juga 2 teman saya yang lain. Ketika akan disebutkan juara 2, jantung yang sedari awal berdetak kencang makin kencang, sakit perut melanda saya, tangan pun bergetar. Disebutlah nama undian, nama sekolah, dan akhirnya nama saya. Saya tersenyum, orang tua, guru-guru pun tersenyum. Juara pertama didapat oleh teman saya yang kebetulan kakak kelas saya. Tak apa, saya tidak iri padanya kemampuannya lebih dari saya dan pantas mendapatkan itu. Saya bersyukur ditempat kedua, tempat yang dicukupkan oleh Allah untuk saya tempati saya dapatkan.
                Saya berfoto dengan pemenang lain, berfoto dengahn guru-guru, dan orang tua saya. Mereka terlihat bahagia, mata dan senyumannya membuktikan ketika saya melihat hasil fotonya. Pipi saya pun pegal rasanya terus tersenyum, tapi bahkan ketika saya tidak tersenyum pegal itu lebih terasa lagi, lalu saya putuskan untuk terus disenyum sampai saya datang ke rumah.
                Perlombaan Story Telling inilah, awal di mana saya tahu bahwa saya menyukai B. Inggris dan kemampuan saya adalah berbicara dan tampil di depan penonton.
                Setelah perlombaan itu, saya sempat mengikuti kembali perlombaan itu ditahun berikutnya dan posisi saya tetap dijuara kedua. Itu memotivasi saya untuk mendalami B. Inggris lebih dalam lagi.

Proses meraih prestasi adalah pengalaman yang sangat berharga. Kita dipaksa untuk berjuang lebih keras, berdo’a lebih banyak, dan bertawakal. 

Komentar

  1. Kapan ya aku bakalan punya piala... *merenung di pojokan*

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah