The Choice


Hay Universe! :D

Hari apa ini? Ya hari ini adalah bagian dari weekend woohooo!! Denger kata ‘weekend’ who udah deh pasti bawaannya senyum dan seneng. Kebayang planning weekend, entah ada yg jalan bareng tementemen, kuliner, ngedate, just hangout, banyak deh.

Beberapa bulan ini, bagi gue weekend adalah harihari nyebelin sama kaya weekday bahkan kayanya gue lebih suka weekday daripada weekend. Kenapa? karena setiap weekend orang tua gue selalu pergi ke Sumedang. As I wrote before, mereka pergi ke unkbild as usual.

Tapi weekend ini, agak beda.

Ceritanya, hari ini gue kerja kelompok buat  bikin kerajinan dari bahan bekas. Berhubung si bahan utamanya ada di rumah gue dan gue ogah jinjing beratberat keluar rumah tuh barang, jadilah kerkel (baca: kerja kelompok) di rumah gue. Nope, karena orang tua pun gada dan gue hemat duit huehehe

Janjian jam 10, dan kita baru mulai hampir jam 11. Gunting ini itu, lem sanasini, jetrek situini, agak setengah jadi. Udah agak siangan, anakanak ribut minta cari makan. Yasudah lah, 2 diantara kita bertugas sebagai kurir yang beli dan ngirim makanan.

10 menit, 15 menit. Ko itu anak 2 lamalama bgt?

Dari tadi ditinggal, gue sama temen cewe gue tetep aja ngerjain tuh kerajinan. 2 temen gue yg cowo entah lah mereka yang pasti ngobrol dan kadangkadang kita nimpalin. Sampe tibatiba, salah satu temen cowo gue niru yang Stand Up Comedy. Kita ngakak, walopun gue udah pernah denger itu materi Stand Up sebelumnya. Gue berpendapat, kalo itu anak ada bakat buat Stand Up Comedy. Gayanya, walopun niru bikin kita ngakak.
Kita ngobrolngobrol lagi, dan ternyata makin seru. Kita ngobrol banyak hal, dan kebanyakan halhal itu absurd, aneh, dan didominasi dengan teori.

Okay, 2 temen cowo gue ini adalah bisa dibilang cowocowo yang nerd. Totally mereka gak culun dengan kaca mata gede dan kerah baju yg selalu dikancingin. Mereka normal ko gayanya, standar cowocowo ko. Nerdnya mereka itu, ada ditopik pembicaraan mereka. They talk about everything berdasarkan teori. Salah satu mereka suka berteori dan nular ke temennya.

Salah satu temen gue bilang, banyak orang yang punya potensi dan kemampuan hebat yang bahkan mereka udah sadari tapi mereka gak mau prove it ke orangorang. Dalam kata lain mereka gak mau terkenal.

Gue pikirpikir. Bener juga. Beberapa cowo nerd, termasuk mereka di kelas gue sebenernya mereka pinter. Apalagi dibidang itungitungan such as matematika dan IPA. Mereka punya potensi buat ikutan segudang perlombaan olimpiade IPA dan matematika dan berpotensi menang. Tapi, mereka memilih buat diem dan idup semau mereka tanpa harus terkenal dengan potensi itu.

Dan gue sadar sesuatu. Ternyata, ada 2 jenis lain manusia. Manusia yang mempunyai PD dan kemauan sehingga bisa mencapai prestasi tinggi dan be well-known. Dan manusia yang berbakat dan berpotensi sepenuhnya pada suatu bidang tapi mereka gamau menunjukan itu dan memilih hidup sesuka mereka.

Kalo gue. Termasuk dalem kategori orang yang punya PD yang mau mengeksplor hal baru walopun gue gak bisa dan menunjukan itu sehingga dapet prestasi dan being well-known. Tapi mereka, 2 temen cowo gue. Actually mereka punya banyak potensi yang unik bahkan umum dan kalau mereka mau, mereka bisa menciptakan prestasi yang bahkan sangat bagus. Tapi, mereka memilih buat diem dengan alesan ‘males’.

Dari contoh itu, gue rasa gue ngerti apa arti frasa ‘Hidup itu adalah pilihan’. It is. Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi seorang dumb yang menjadi pintar. Atau seorang pintar yang menjadi nerd.

Kita yang jadi populer karena prestasi yang diraih dan membuat orang melihat kita sebagai orang yang pintar dengan prestasi yang didapat, padahal ada sebagian dari situ sebagai keberuntungan. Atau seorang yang pendiam, biasa-biasa aja, atau bahkan nerd yang mempunyai pontesi yang bahkan lebih besar dari orang yang bisa meraih prestasi itu tapi kita gak ada niat buat melakukannya.

Ini semua tentang keseimbangan hidup dan peranan hidup yang berasal dari pilihan manusia itu sendiri. Kalau engga ada orang yang pengin nerd, berbagai teori di dunia ini engga bakal ada. Kita orang yang biasa pun gak bakal bisa belajar dan sedikit merefresh pikiran dengan pikiran aneh a.k.a pinternya nerd. Kalo engga ada orang yang pendiem, kita gabakal bisa belajar bahwa diam dan mendengarkan itu kadangkadang berguna. Kalo engga ada orang yang biasabiasa aja, hey gak mungkin kan orang di dunia ini cumen ada pada posisi exist dan nerd doang? Dan orangorang exist? Kalo engga ada mereka, darimana kita bisa ngukur ada di posisi mana kita dan darimana kita bisa menikmati dan ikuti hal-hal gila dan menarik.

How about orang yang berprestasi? Kalo engga ada mereka, kita gabakal punya motivasi untuk meraih pencapaian dalam hidup kita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah