Bekerja

Menjadi dewasa itu ribet ya, bahkan keinginan buat cepet lulus kuliah dan kerja aja kayaknya udah keinginan yang ribet banget.

Terbukti..

Katanya cari kerja itu sekarang susah, bertitel sarjanan aja ngga cukup untuk memberi pekerjaan yang layak dan sesuai sama titel sarjana kita. Dulu, ungkapan orang (dewasa) tentang hal-hal yang kayak gitu gak terlalu gue hiraukan, yang gue tau pasti kerabat gue yg abis kuliah pada kerja tuh, ngga ada yang nganggur.
Semua berubah ketika..

Gue beranjak dewasa dan sepupu gue lulus kuliah. Dari kecil, gue udah dikenalkan sama yang namanya impian dan berbagai cara untuk meraihnya, terbukti dari banyak novel semacam Laskar Pelangi yang gue baca. Ketika ada niat, apapun bisa diusahakan untuk menggapai mimpi dan akhirnya hidup enak. Tapi ternyata, beribu motivasi yang novel kasih sampe sekarang masih gak bekerja buat gue. Sekolah, gue gak terlalu berjuang, main jalan terus, yang ada malah jadi sering salah fokus. Akhirnya, sering galau sendiri, mau jadi apa gue nanti?

Seiring dengan gue lulus SMP dan sepupu gue lulus kuliah, gue makin salah fokus, sepupu gue makin stress mikirin kerja di mana. Beribu-ribu e-mail lamaran terkirim tiap weekendnya, beratus-ratus amplop coklat teronggok di banyak meja, dan berpuluh-puluh interview dilakukan. Hasilnya? Nihil. Hasil nihil itu membawa pada argumen negatif, positif, tuduhan Tuhan ngga adil, dan rutukan pada diri sendiri. Seengganya itu yang gue bisa baca dan ambil dari kondisi sepupu gue.

Sampai akhirnya..

Sebuah perusahaan menerima sepupu gue untuk kerja. Gaji yang ditawarkan lumayan, kerjaan pun ngga berat, tapi waktu dan aturan sangat mengekang. Lembur ngga dibayar, jam kerja lebih dari 8 jam setiap harinya, istirahat mepet, dan gak boleh mainin gadget sama sekali ketika kerja. Keadaan itu buat sepupu gue adalah keadaan kerja yang ga enak. Ya emang lo bisa tahan 12 jam lebih tanpa gadget?

Makin ke sini, keadaan kantornya makin ngga baik, ketika sepupu gue nanya ke yang udah resign atau yang lebih dulu tau sih, banyak cerita yang akhirnya bikin sepupu gue ingin resign juga. Kunci utamanya ada diwaktu yang menguras tenaga banget. Kerja 12 jam dengan gaji 8 jam itu gak setara, apalagi 4 jam sisanya sepupu gue selalu dirutuki banyak telepon dan sms dari keluarga yang nanya “kapan pulang?” disamping itu, atasannya berbanding terbalik dengan sepupu gue yang udah gak ditanyain lagi sama keluarga kalo malem, belum pulang dari kantor.

Di sini gue liatnya sebagai dinamika dunia kerja.

Gue emang masih anak ingusan, tapi gak apa dong gue berpendapat?
Dunia kerja, sepengetahuan gue jauh lebih gilak, abu-abu, dan keras di banding sekolah. Kebayang kalo persaingan di sekolah aja udah sengit buat ngedapetin nilai, gimana di dunia kerja yang tujuannya adalah uang? Lepas dari situ, relasi dan lamanya kerja juga ternyata berpengaruh banyak untuk kelangsungan hidup kita di kantor.

Dikasus ini, sepupu gue kena limpahan kerjaan partner kerjanya yang keteteran ngerjain kerjaannya sendiri, jadilah pulangnya lama. Mau ngelaporin ke bos? Lah partnernya udah kerja taunan di situ, salah-salah ntar dipecat. Mending resign duluan.

Tapi menurut gue, menilai seseorang dari lamanya dia bekerja itu, salah. Tapi, hampir setiap kantor di mana pun menerapkan ini. Padahal, kadang yang masih barulah yang pikirannya masih fresh belum terkontaminasi ini itu yang lebih bisa mentaati peraturan kantor dan meminimalkan jobdesknya. Intinya, bosnya harus bijaksana. Tapi balik lagi, ini semua masalah uang, semua bisa direkayasa.

Relasi juga membantu kamu buat lebih memahami kantor kamu. Ini sih buat gue yang males banget bikin relasi, yah masih labil jadi memperluas relasi masih satu hal yang membingungkan buat gue. Padahal relasi yang luas itu sangat membantu banget, entah buat kerjaan atau cuman sekedar temen hangout.
Intinya.

Bekerja itu punya banyak bentuk. Ada kerjaan yang nyantei, gaji bejibun. Kerjaan berat, gaji gede. Kerjaan sedikit , gaji ikutan sedikit. Kerja tapi gak dibayar, dan seribu bentuk lainnya. Pekerja juga macem-macem. Tapi yang pasti, kerja adalah keharusan setiap orang dewasa karena dari mana lagi kita dapet uang kalau bukan dari bekerja? Bahkan ‘mencuri’ pun itu pekerjaan…… yang tercela.

Yang fatal di sini adalah, ketika kita gak punya planning dan membiarkan masalah ‘bekerja’ itu berjalan seiring waktu. Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dikejar, diraih, dikembangkan, dan diinvestasikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah