Pantai Santolo

Selamat Malam dolo kali ah peeps, udah lama juga gak ketemu *hapasi*
Okay, tercatat hari ini tanggal 3 Agutus 2013. Mari kita throwback sebulan ke belakang, yaitu 3 Juli 2013.
Di 3 Juli itu, gue sedang libur sekolah. gue udah libur hampir 2 minggu waktu itu dan udah ngabur ke mana-mana tapi masih di Bandung. Nah keniatan sama gue deh untuk pergi ke pantai, karena sebelumnya gue udah ke Lembang yang bisa diartikan sama ‘gunung’ kan gak afdol juga gitu kalo belum ke ‘laut’. Jadilah gue hasut beberapa sodara gue untuk pergi ke pantai di daerah Garut, namanya Pantai Santolo.
Kenapa gak Pangandaran? Atau Bali sekalian? Oke Bali sih udah pasti ngga keduitan, inget tiket pesawat yang pasti melambung tinggi gara-gara lagi liburan. Pangandaran? Kayaknya ko penuh banget itu pantai satu kalo liburan, nah gue penginnya tempat yang sepi.
Kenapa Pantai Santolo di Garut? Gue tau pantai itu dari ex. Nah, jadi ada maksud terselubung juga di sini. Selain emang gue pengin main, gue pengin buktiin aja kata dia, pantai ini bagus, dan blablabla. Gue sih cuman pengin buang kenangan sama dia aja di sini, throwing all of those memories away with the waves.
Pergilah gue ke Santolo jam 7 pagi dari Bandung, dan sekitar jam 1 atau 2 juga udah sampe. Jalanan emang lumayan sepi dan perjalanan menuju pantainya itu aduhai indahnya boy! Sebelum masuk pantai kita harus lewat kebun teh yang dijamin lebih bagus dari kebun teh yang ada di Lembang! Viewnya ituloooh surga banget! Manjain mata! Kebun tehnya berbukit-bukit, kebun-kebun tanaman sayuran kaya kol, brokoli, wortel, kentang walaupun miring-miring tapi indah, terus walaupun jalannya berkelok-kelok bikin pusing, view di kiri-kanan bisa jadi obat jitu ngilangin rasa pusing, dijamin deh! Dan yang paling penting, jalannya itu kecil, 2 mobil pas, sepi pula. Asoy gak tuh?
Daerah pantai yang menghadap Samudra Hindia ini ternyata dibagi menjadi beberapa nama. Ada Pantai Sayang Helang (Sayang Elang) yang sumpah gak menarik banget. Pantainya sih ada, tapi jarak air laut ke pantainya jauh banget dibatasi karang-karang yang ah ya gitudeh. Terus lingkungannya pun gak bersahabat, banyak sih pondokan gitu, tapi pondokan-pondokannya menurut gue gak pada layak, kumuh dan kotor, mungkin ada beberapa yang bersih tapi ya gak meyakinkan aja untuk dijadiin tempat nginep.
Karena ini bukan pantai tujuan utama kita, pergilah kita ke Pantai Santolo. Pantai yang dituju.
Nyampe area Pantai Santolo, wah ternyata di sini emang lebih rame, suasanya lebih hidup, pondokan yang tersedia pun lebih layak. Yaudah deh kita cari pondokan dulu. Hati-hati banyak calo yang nawarin pondokan murah tapi gak nyaman, pinter-pinter nyari deh. Gue pun akhirnya dapet pondokan rumah yang nyaman seharga Rp. 450.000 semalam untuk 8 orang. Murah kan kalo dibagi-bagi?
Abis rehat bentar, gak sabar pengin main-main di pantai, pergi deh gue sama keluarga ke Pantai Santolo. Berdasarkan keterangan yang kita dapet sih, kalo mau ke pantainya harus naik perahu dulu seharga Rp. 2000. Fyi ajanih, nyebrangnya itu cuman, pokonya kurang dari 10 m, deket bgt. Berasa rugi gue.
Gue ke pantai ini, sambil bawa beberapa foto yang ex gue kirim untuk meperlihatkan segimana bagusnya Pantai Santolo ini. Gue inget banget dia liat sunset di pantai ini, air laut surut, dan dia jalan ke tengah pantai. Sounds so fun.
Tujuan gue mah simple, gue print beberapa foto itu, untuk gue balikin ke tempat-tempat di mana objek dalam foto itu berada. Buat gue itu sebagai simbol, bahwa gue juga udah mengembalikan hati dia yang dulu gue ambil dan sebaliknya, simbol juga bahwa kita itu udah saling melepaskan perasaan masing-masing seiring lepasnya foto-foto itu ke semesta.
Tapi…. Semua GAGAL.
Ya gue gagal melakukan ritual yang udah gue susun sendiri. Kenapa?
Karena gue gak pernah menemukan di mana objek di dalam foto itu berada. Ternyata, walaupun kita mengunjungi tempat yang sama di waktu yang hampir juga sama, sama dalam artian gue dan dia sama-sama dateng sore ke Pantai Santolo, tapi kita ngga melihat benda yang sama.
Di situ, gue marah. Marah sama diri sendiri, kenapa gue harus memaksakan diri sebego ini untuk bawa foto-foto itu dan so drama mengembalikannya ke semesta? Kenapa gue terlalu egois untuk menafsirkan pantai ini persis sama kaya yang difoto itu? Dan yang terpenting, kenapa alasan gue untuk dateng ke pantai ini cuman gara-gara lo yang bahkan gak pernah gue pikirin lagi beberapa bulan terakhir ini, yang bahkan kenangan-kenangan itu pun udah terhapus sendirinya tanpa harus pergi sejauh ini cuman buat buang kenangan yang udah hilang?!
Ketika pikiran-pikiran tadi muncul... gue sedang berjalan dengan dslr tanpa baterai dileher gue, tanpa alas kaki, mata berkaca-kaca. Gue telusuri pantai sepi-semi-kotor ini, telusuri terus sampe mata dan  hati menemukan yang mereka mau. Objek di dalam foto. Gue terus jalan  tanpa menggubris siapa pun, jalan, jalan, sampai gue tau pantai ini emang gak punya view seperti dalam foto.
Gue marah, gue kesel.
Diujung pantai, gue liat ada tembok yang menjadi pemisah pantai sepi-semi-kotor itu dengan pantai lain yang air lautnya setia mencium pantai. Gue takut laut, takut ketinggian, dan takut jatuh. Tapi dengan emosi dan kekesalan yang memuncak, gue jalan menuju tembok yang lebarnya gak lebih dr 3m itu, sedikit ngeri liat hijaunya air laut yang tenang tapi mematikan, tapi gue kalut, gue berjalan terus, dan akhirnya sampai di pantai yang entah apa namanya.
Pantai itu terletak di bawah, dan gue baru sampai di atasnya. Gue pikir, gak ada jalan untuk turun ke bawah. Hampir pupus harapan gueuntuk menemui pantai yang ‘sebenarnya’ apalagi langit makin gelap dan petir mulai bersahutan. Untung ada warung yang diem sendiri di tempat itu, gue tanya penjualnya.
“Pak ini cara ke bawahnya gimana?”
“Terus aja neng jalan ke bawah, nanti juga sampe. Tincak we neng (injek aja neng)”
Iya si bapa sih nyuruh injek aja, lah gue kaga pake sandal, banyak batu, bawa kamera, ngeri juga pak. Tapi lagi-lagi emosi mengalahkan semuanya, gue beranikan diri buat turun, dan sampe di bawah.
Di pantai itu..
Gue terdiam, dengan mata yang masih berkaca-kaca, gue melihat lautan. Gue mendekat ke bibir pantai, membiarkan kaki gue di sentuh ombak. Udara sangat gak bersahabat sore itu. Boro-boro sunset, bahkan panasnya matahari pun terkalahkan awan hitam yang pekat, angin laut yang besar, dan petir yang saling berseru. Dengan kekalutan ini, gue bahkan gak takut dengan semua itu, dengan ombak yang bahkan makin besar, gue tetap diam.
Pikiran gue berkecamuk di situ. Gue kesel, dengan kebodohan yang gue lakuin. Bodoh untuk mendambakan pemandangan sesuai foto, bodoh untuk meinggalkan keluarga gue di belakang, bodoh gue bawa-bawa dslr gak ada baterainya.
Gue kalah dengan emosi, cape, dan akhirnya terdiam. Pikiran gue masih berbicara, bahkan berbicara banyak. Gue luapkan kekesalan dan apapun yang mengganjal hati dan pikiran gue, terutama tentang kebodohan-kebodohan yang gue lakukan ini dan tentang kenangan gue dan dia. Gue ngomong sendiri di depan laut, di depan ombak kaya orang gila, gue setengah berteriak ketika gue kesal dengan apa yang gue ucapkan, dan gue terdiam lagi ketika semuanya terasa sia-sia.
Dan pada akhirnya gue berkata…
“Aku mengembalikan perasaan ini ke sini, ke tempat di mana perasaan itu muncul dan kamu bawa pulang ke Bandung. Aku mengalirkan sisa-sisa memori ini ke Samudra Hindia yang katanya kejam, biar memorinya juga hilang dengan keras. I LETTING GO YOU!!”
…ucap gue berusaha teriak.
Meski gue udah lama gak pernah berpikir tentang memori ketika gue pacaran dulu, tapi ketika gue menemukan apalagi mendatangi serpihan memori itu, semuanya muncul kembali. Tapi, gue berniat, dan sangat berniat untuk menyudahi semua ingatan itu, makanya gue bikin momentum kaya gini.
Mungkin terkesan lebay dan bukan gue banget. Tapi gara-gara cerpen yang gue baca dan ada acara mengembalikan foto itu dan akhirnya membawa gue ke sini, membawa gue pada memori-memori gue sama dia dulu, ya apa boleh buat, ketika kesal memuncak, bahkan logika pun terkalahkan. Tapi akhirnya gue lega, lega bahwa serangkaian healing yang gue jalani selama ini, berpuncak di sini dan terselsaikan di sini. Mungkin ini juga yang dinamain Trave(love)ing. Jalan-jalan untuk move on. Ya gue ke sini, untuk membuang masa lalu dan move on, bergerak ke depan, tanpa ada bayang-bayang memori gue dan dia. Biar ketika gue inget Pantai Santolo, gue ingetnya peristiwa kebodohan gue ini, bukan cerita indahnya pantai ini dari dia.
Gue udah siap. Siap untuk bergerak ke depan, siap untuk meninggalkan meori aku-kamu yang memang sudah gue tinggalkan dan akan lebih gue tinggalkan. Dan gue akan sangat baik-baik saja, dengan kemungkinan yang bakal terjadi di depan.
Bahkan, ketika akhirnya gue harus pulang setelah melihat sisi lain Pantai Santolo yang ternyata memang indah, dengan pantai yang senyap, tetapi ombak yang riuh di pagi hari esoknya, gue berbisik…
“Pantai ini indah, ajak pacar kamu ke sini ya!”
As easy as like that.
Mungkin gue terlampau sangat drama dan konyol dan cukup gila ngelakuin ini. Kesannya gue selama ini gak bisa move on. Tapi, seriously, gue udah gak pernah kepikiran apa-apa lagi tentang ex gue. Sampai ketika liburan datang dan gue terlalu gatel untuk terus berdiam diri di rumah. Tercetus ide untuk pergi ke pantai ini, lalu kepikiran kenapa gak sekalian buang-buang memori? Tapi bodohnya gue cuman terfokus sama ‘buang-buang memori’nya akhirnya gue harus ditampar dulu deh sama semesta, buang memori sih boleh, tapi gak jadi ngerusak acara jalan-jalannya kan?

So.. maybe someday gue bakal ke Pantai Santolo lagi. Liat sunset yang indah, bareng temen, bareng pacar gue mungkin yang entah siapa nanti, seru-seruan bareng, main pasir, main air laut, yah pokonya seneng-seneng deh! Santolo Beach I promise I’ll back to you, with a better feeling. Thank your for the healing ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah