I Found A Dream Behind My Dissapointment part 2

Did you have read my old post titled ‘I Found A Dream Behind My Dissapointment’? Well if yes, this posting is relevan with the posting and if yet, you’ve to read it peeps hehe

Oke subtitle please!

Kalo 3 tahun lalu gue mengikuti lomba—pidato—yang—bikin—kecewa—abis di SMP paling bergengsi di Bandung, giliran tahun ini gue lomba debat B. Inggris di SMA paling hype se-Bandung Raya. Yap, SMA Negeri 3 Bandung. SMA dengan sejuta prestasi, cerita, misteri, dll, dll.

Well, semua ini berawal ketika gue diajukan untuk mengikuti lomba Pidato B. Inggris yang (lagi-lagi)  diselenggarakan oleh penerbit buku sejuta pelajar di Indonesia ini. Dari sana, koordinator guru B. Inggris di sekolah gue, meminta gue untuk juga ikut dalam lomba debat B. Inggris yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung yang berlangsung di SMA Negeri 3 Bandung.

Jadilah, Minggu, 06 Oktober 2013 yang seharusnya menjadi hari malas-malasan gue karena besoknya akan menghadapi si Senin, gue pergi ke SMA Negeri 3 Bandung untuk mengemban amanat dari Kepala Sekolah untuk mengikuti lomba ini *tsah*

Waktu untuk kita latihan debat ini ada sekitar rentang 2 minggu. Tapi gara-gara tim gue ini pada sibuk *tsah* secara kita kan udah kelas 11, and you know that anak kelas 11 itu sibuk disegala hal, dari yang penting sampe gak penting. Jadi, waktu latihan kita cuman beberapa hari dan latihan seriusnya itu cuman 1x, itupun kata temen gue sih ‘Gejes banget’.

Ketika sesi latihan itu, I just realize something! Yea I just realize that I cant even speak English clearly, I don’t have enough vocabulary, and I really really mess on speak English. So what I’m gonna do tomorrow in debate contest?!

Benar sekali peeps, walaupun gue sering ngepost tweets berbahasa Inggris, bikin caption diinstagram hampir semua pakai B. Inggris, nulis-nulis dikertas pake B. Inggris, tapi kalo urusan ngomong gue gak bisa sama sekali! Gak bisa dalam artian, gue gak bisa ngomong B. Inggris dengan lancar seperti gue ngomong B. Indonesia, sementara ketiga teman gue yang lain yang merupakan tim gue, mereka ini ngomong B. Inggrisnya udah jelas, udah casciscus, pembawaan mereka waktu ngomong B. Inggris gak kagok. Nah apa kabar sama gue yang sebelum ngomong aja udah nervous duluan padahal kalo gue ngomong B. Indonesia lancarnya minta ampun?

Berawal dari kesadaran itu, akhirnya gue berpasrah diri aja kepada Tuhan YME untuk lomba debat ini. Gue ngga mentargetkan untuk menang, karena walaupun gue suka debat, tapi kalau debatnya pake B. Inggris sih gue mah give up aja, lha wong vocabulary gue rasanya gak nambah sejak entah kapan *malu*. Lagian, persiapan tim gue ini sangat minim sekali, jadi ya walaupun guru pembimbing gue bilang bahwa kita harus membreak the subjective view from the judges it means kita harus show off dan menghapus penilaian juri yang kebiasaannya memenangkan sekolah yang emang berada di Cluster 1 tapi dengan keadaan kaya gini gue sangsi kita bakal menang.

Dan memang benar..

Pada babak penyisihan, kita memang dibuat senang dengan bisa mengalahkan—another—sekolah di Cluster 1—dan itu jadi motivasi buat kita. Btw, setelah ditilik ulang, yang debat ini cuman 3 orang 1 tim, sedangkan kita 4 orang 1 tim. Makanya gue—yang merasa gak siap untuk tampil debat karena masalah vocabulary tadi—dibay dan gak main pada babak penyisihan.

Di babak perempat final, ini giliran gue yang tampil. Jadi sistemnya gue gantian sama 1 orang dari mereka. Di babak ini, kami kalah peeps. Kalah  strart dan strategi rupanya. Kita kalah sama SMA yang satu Cluster *nangis dipojokan* karena memang mereka ini strateginya adalah berpidato bukan berdebat, dengan cara ini akhirnya kita yang mau mendebat gak bisa berkutik karena mereka kebanyak beragumen dan gak ada jeda untuk kita beragumen *sigh*. Well akhirnya kita harus bersedia kalah dan perjuangan kita sampai di sini aja.
Kita gak bete atau mencak-mencak atau gue pun gak sampe ngedown dan ngabur lagi mengelilingi Taman Lalulintas seperti yang gue lakukan 3 tahun lalu. Kita mah keluar dari ruang lomba, ketawa-ketawa aja udah gak bete dan nyesel sama kekalahan kita, karena toh kita tahu batas kemampuan kita memang sampai di sini.
Untuk menghilangkan sedikit rasa gendok yang ada dan membesarkan hati kita bertiga, akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke McD yang ada di mall dekat SMA ini. Kita melampiaskan kegendokan ini dengan memesan McFlurry Caramel dan Choco, lumayan untuk moodbooster.

What I got on this contest is..

Pertama. Gue menambah teman. Yap, orang-orang yang satu team dari sekolah gue ini adalah orang-orang yang sama sekali gue belum kenal sebelumnya. Tau orang dan namanya sih iya, tapi kalau tegur sapa dan ngobrol langsung sih gak pernah.

Gak cuman nambah teman, tapi kita jadi deket di sini. Lewat obrolan-obrolan yang mengalir di antara kita bertiga, kita bertukar banyak cerita. Dari mulai cowo sampai obrolan tentang pengalaman masing-masing. Gue selalu suka momen ini, momen di mana kita bebas bercerita, bebas bertukar pikiran, bebas mengungkapkan apa aja yang kita mau tanpa harus memikirkan judge yang akan keluar dari mereka karena kita belum tahu mereka secara personal. Kadang bercerita dengan orang baru itu asik peeps, kita bisa melihat cara pandang yang baru dan berbeda. Jadi hidup kita gak stuck dipertemanan dan sudut pandang yang itu-itu aja.

Kedua. Tentang lomba. Entah berapa kali gue harus ditampar sama situasi untuk menyadarkan gue bahwa Bandung ini adalah kota besar dengan segudang pelajar yang pintar, kreatif, dan kompetitif. Dari jaman SMP dulu gue gak pernah sadar bahwa kemampuan gue ini sangat tertinggal dari kemampuan pelajar lain yang ada di Bandung.  Tapi dengan angkuhnya gue selalu merasa bahwa gue bisa bersaing dengan mereka dengan kemampuan gue yang ini-ini aja. Alhasil, setiap lomba gue harus bersedia jadi peserta ‘pemeriah’ karena kemampuan gue untuk berlomba belum terlalu bagus.

Terbukti, dengan gue yang merasa bisa berbahasa Inggris dan mengaku seorang active speaker tapi nyatanya nihil. Ini yang harus gue koreksi dan introspeksi. Semenjak di Bandung, gue malas untuk mengikuti les karena alasan konyol. Padahal untuk B. Inggris, mengikuti les adalah ajang di mana kemampuan berbahasa kita diasah tapi gue terlalu egois untuk memilih belajar otodidak, padahal malas.

At the end..


Gue tersadar, mungkin roda kehidupan gue sedang berputar. Mungkin jaman SD dulu gue sering memenangkan berbagai lomba dan gak tahu rasanya menjadi seorang yang berlomba tapi gak menang. Ketika SMP gue dihadapkan dengan situasi itu, tapi gue gak bisa menerima dan akhirnya merasa sangat down. SMA ini, gue kembali dihadapkan dengan situasi itu dan di sini gue mulai menguasai diri, bahwa tak apa gue kalah, karena gue memang belum layak menang, gue belajar untuk berbesar hati, belajar menerima dan menjadikan kekalahan gue pengalaman untuk lebih baik. Yang gue sukuri di sini, walaupun gue kalah, gue dapat  teman baru, gue sudut pandang baru, dan itu cukup membuat gue senang. Mungkin semua ini dapat membentuk karakter gue lebih dewasa untuk menghadapi masa depan? Mungkin atau keberuntungan sedang enggan menghampiri gue? Yah mungkin juga. Everything could be happen in the future right?

And...

Bisa gue bilang, kembali gue menemukan 'dream behind my dissapointment' lagi karena dibalik kekecewaan gue akan egoisnya gue untuk mendalami B. Inggris, tetapi gue bisa mewujudkan mimpi gue untuk menjalin relasi lebih luas dan mendengar lebih banyak certa dari sudut pandang yang berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah