Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Karangan Asal 2 tahun Lalu

Jurnalis, Jurnalistik, Wartawan? Apa sih?
Pada suatu hari ada seorang anak perempuan yang sedang membaca buku tentang Jurnalistik. Tak sengaja ia membaca buku itu, yang diambilnya dari meja kerja sang Kakak. Ya, ia sekarang berada di kantor kakaknya. Sebuah perusahaan tv swasta yang terkemuka di Ibu Kota. Dalam buku yangdibacanya, banyak sekali bagian-bagian yang sama sekali tidak dimengerti.
Annisa             :”Hmm, dibuku ini tertulis judul ‘Buku Panduan bagi Jurnalis Pemula’ berarti buku ini memaparkan tentang langkah-langkah yang dapat diambil bagi jurnalis pemula. Tapi kakaku kan sudah lama bekerja di sini, lalu buku ini untuk siapa?”
Kakak Annisa      :” Hey, maaf ya lama nungguin kakak. Sedang apa kamu?”
Annisa             :”Ini kak, liat buku yang ada di meja Kakak. Kirain aku tadi novel atau semacamnya, eh ternyata buku panduan. Gak ngerti deh aku.”
Kakak Annisa :”Hahaha, kamu itu ngorek-ngorek barang orang. Untuk sekarang kamu pasti belum ngerti, tapi nanti kalau sudah besar dan…

Ngurusin hal 'mati'

‘Tau? Kenapa orangorang merasa selalu tidak sukses? Itu karena kebanyakan orang lebih memilih mengurusi tanah daripada mengurusi ruhnya. Kita manusia terlihat lebih mulia dari makhluk ciptaan Allah lainnya karena adanya ruh di dalam jasad kita, bukan karena ada akalnya. Tapi ternyata, manusia lebih memilih mengurusi tanah daripada ruhnya. Yang hidup itu hanya sematamata jasadnya saja, ruh di dalamnya MATI, TIDUR!!’

Oh yaAllah, berarti gue pun selama ini cumen ngurusin tanah doang. Astagfirullahaladzim. Jerit, Bila dalam hatinya.
Bila emang anak yg melek tekhnologi, melek fashion, dan juga melek sama gaya hidup yang glamor. Bukan berarti kehidupannya penuh sama hurahura, kehidupannya sangat bisa, bahkan jauh ari kehidupan glamor dalam pandangan apapun. Tapi, Bula cukup tau kehidupan seperti itu dan ingin merasakannya sesekali.
Ternyata, Bila selama ini salah. Kehidupan glamor yang sering ia bayangkan dan yang ingin dia alami, itu sangat jauh dari ketentuan yang diajarkan Islam. Alasan se…

Hidup Ngota

Sore itu, kawasan Dago mulai dipadati oleh mobilmobil yang lalu lalang dengan cepat memburu tempat tujuan.  Pukul 5sore, jam pulang kantor, jam ketika banyak remaja yang keluar untuk menuju kafe atau resto menunggu adzan Magrib berkumandang.

Penjual kolak, cendol, cingcau, candil, dan makanan khas buku puasa lainnya bertebaran di kanankiri jalan. Transasksi pun sedang ramai berlangsung, rasanya tidak ada lapak yang sepi bila kita melihat sekilas. Jauh di kaki bukit sana, Alin hanya bisa melihat keramaian jalanan itu sebagai titiktitik semerawut. Seperti semut yang sedang berkumpul.
Menikmati pemandangan Bandung disore hari adalah ketenangan sendiri baginya. Lampulampu rumah yang mulai menyala, ramainya lalulintas jalan, serta hijaunya pepohonan seperti lukisan alam yang hidup. Hidup dengan begitu nyata. Udara dingin yang menusuk, menambah kesan magis lukisan nyata tersebut.
‘Dasar bocah, ngapain lu di sini sendirian? Pake apa lu ke sini?’ Feral, sang kakak datang menghancurkan khayalann…