Karangan Asal 2 tahun Lalu

Jurnalis, Jurnalistik, Wartawan? Apa sih?

Pada suatu hari ada seorang anak perempuan yang sedang membaca buku tentang Jurnalistik. Tak sengaja ia membaca buku itu, yang diambilnya dari meja kerja sang Kakak. Ya, ia sekarang berada di kantor kakaknya. Sebuah perusahaan tv swasta yang terkemuka di Ibu Kota. Dalam buku yangdibacanya, banyak sekali bagian-bagian yang sama sekali tidak dimengerti.

Annisa             :”Hmm, dibuku ini tertulis judul ‘Buku Panduan bagi Jurnalis Pemula’ berarti buku ini memaparkan tentang langkah-langkah yang dapat diambil bagi jurnalis pemula. Tapi kakaku kan sudah lama bekerja di sini, lalu buku ini untuk siapa?”

Kakak Annisa      :” Hey, maaf ya lama nungguin kakak. Sedang apa kamu?”

Annisa             :”Ini kak, liat buku yang ada di meja Kakak. Kirain aku tadi novel atau semacamnya, eh ternyata buku panduan. Gak ngerti deh aku.”

Kakak Annisa :”Hahaha, kamu itu ngorek-ngorek barang orang. Untuk sekarang kamu pasti belum ngerti, tapi nanti kalau sudah besar dan kamu sudah menjadi seperti kakak sekarang ini kamu pasti aka sangat butuh buku ini.”

Annisa             :”Iya deh Kaa, oiya Ka kita pulang yuk! Kesorean nih, Icha banyak PR.” (meminta pada kakaknya sambil agak manja)

(Keesokan harinya di sekolah)

(Rahmi, Choe, Ghina, sedang mengobrol di bangku Rahmi. Lalu Annisa datang menghampiri mereka)

Annisa             :”Hey!! Lagi pada ngapain sih, sibuk banget. Masih pagi juga.”

Rahmi              :”Iya nih, kita lagi ngedebatin, apa bedanya jurnalis ama wartawan. Cha menurut kamu nih jurnalis ama wartawan itu beda gak sih?”

Annisa             :”Menurutku sih beda. Karena gini, kakaku itu jurnalis, tapi dia juga bukan wartawan. Laa wong dia kerjaannya jadi pembaca berita bukan pemburu berita. Kalo Wartawan kan pemburu berita.”

Choerunnisa    :”Tuh kan, bener kata aku tadi Mi!! kalo wartawan sama jurnalis itu memang berbeda.”

Rahmi              :”Tapi dari buku yang aku baca, jurnalis itu adalah seorang wartawan sama-sama aja,”

Choerunnisa    :”Iya disitu kan ada kata ‘contoh’ jadi jurnalis itu bukan hanya wartawan, pembaca berita juga termasuk. Seperti apa yang dibilang Icha tadi.”

Ghina              :”Ya ampun, gini ajadeh kalau kalian terus-terus debat gini, tanpa ada alesan yang kuat mau debat sampai kapan juga gak bakal beres. Nanti deh pulang sekolah kita ke perpustakaan daerah bareng-bareng cari buku tentang ‘Jurnalistik’ di sana.”

Annisa :”Betul itu kata Ghina. Sekarang kita baris aja yuk! Bel udah bunyi tuh.”
(Jam pulang)

(Tenonenonet………….. nobetnonet…………..tenononet……… bel berbunya, semua anak keluar meninggalkan kelas)

Ghina              :”Jadi gak nih mau ke perpustakaan? Atau mau ke kantin dulu, aku laper nih!!”

Rahmi              :”Jadi doong!!”

Annisa             :”Iya udah ayo cepet, biasanya jam istirahat kantor gini perpustakaan agak penuh.”
(Sampai di perpustakaan)

Ibu PP             :”Selamat siang anak-anak, selamat datang di perpustakaan silakan isi daftar buku tamu dulu.”
Ghina              :”Siang juga bu.” (sambil senyum)

(Setelah semua mengis daftar buku tamu, keempat anak-anak itu masuk menyebar mencari buku tentang ‘Jurnalistik’)

(Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berkumpul kembali, membawa buku hasil pencarian mereka)

Rahmi              :”Ghin, kenapa kamu malah bawa buku kumpulan resep makanan dan novel? Yang kita cari itu tentang ‘Jurnalistik’ bukan novel.”

Ghina              :”Maaf mi, dibuku ini banyak sekali gambar makanan enak aku jadi ingin memasaknya (nyengir) dan kalau novel ini, walaupun novel tapi bertema jurnalistik loh. Karena isinya menceritakan kehidupan seorang jurnalis.”

Choerunnisa    :”Oya? Wah sepertinya novel itu bagus. Dari pada buku yang aku bawa ini. Kata-kata yang terdapat di dalamnya banyak yang tidak aku mengerti.”

Ibu PP             :”Asalamualaikm anak-anak, nampaknya kalian sedang mencari sesuatu, bisa ibu bantu?”

Rahmi              :”Wah, kami akan senang sekali kalau ibu mau membantu. Begini bu, kita sedang berdebat anatar jurnalis dan wartawan itu sama ataukah beda?”

Ibu PP             :”Wah kalian ini, masih kecil ko sudah memperdebatkan yang seperti itu. Nak, ibu sendiri tidak tahu tentang dunia Jurnalistik, karena ibu bukan seorang jurnalis ataupun wartawan. Jadi sebaiknya kalau hasil dari membaca kalian tidak memuaskan juga. Tanyalah pada orang yang bekerja dibidang jurnalistik. Bisa dilakukan dengan wawancara mungkin. Kalau saran dari ibu sih seperti itu.”

Ghina              :”Kebetulan bu, kakak teman saya ini (sambil menunjuk pada Annisa) adalah seorang pembaca berita di tv.”

Ibu PP             :”Nah cobalah bertanya pada kakakmu nak. Pasti dia tau banyak tentang apa yang kalian perdebatkan.”

(Annisa menelepon kakaknya agar datang ke perpustakaan daerah yang memang tidak terlalu jauh dari kantornya)

(Kakak Annisa datang)

Kakak Annisa:”Asalamualaikum, halo semua. Ada apa nih, ko pada bingung gitu mukanya?”

Annisa             :”Gini kak, kita tuh pengin tau kalau Jurnalis sama Wartawan itu sama gak sih. Kalau yang berdasarkan Icha baca kemaren sih, sama aja. Kecuali kalau Jurnalistik sama Wartawan itu beda apa engga jelas iya.”

Kakak Annisa:”Yang Icha bilang itu bener, antara Jurnalis dan Wartawan itu sama. Sama-sama pemburu berita. Kecuali kalau kita bertanya bidang jurnalistik sama wartawan beda apa engga? Kalau itu kita masih bisa bedain. Karena kalau sudah mencakup ‘Bidang Jurnalistik’ itu ada kaitannya sama bidang pemberitaan. Yang engga wartawan aja, ada pembaca berita kaya kakak, editing berita, camera man, dan banyak lagi. nah sekarang gimana, udah jelas gak?”

Rahmi              :”Hmmm iya kak, sekarang kita ngerti. Akhirnya ketemu juga titik temunya (ketawa) makasih ya kak.”

Ghina              :”Iya nih, akhirnya beres juga nih perdebatannya. Makasih banyak ya kak, maaf nih kita ganggu waktunya kakak.”

Kakak Annisa:”Gak apa-apa kok. Kakak juga seneng bisa bantu kalian. Oiya, kebetulan ini jam makan siang kakak, kita makan eskrim yuk. Kayaknya enak panas-panas gini. Kakak yang traktir deeh.”

Keempat anak:”Assiiikkkkk makan eskrriimmmm, makasih yaa Kak.”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah