Berteman (lagi) dengan Angin


Aku menyukai seluruh bagian hujan. Ketika hujan lebat menyeramkan, hujan sederhana yg cukup, dan hujan kecil yg berlari-lari. Aku suka semuanya.

Aku pun suka saat di mana hujan berhenti. Ketika hujan menjadikan jalanan tempat mematika sekaligus tempat yg nyaman. Aneh memang.

Pagi ini, aku diam duduk dimotorku. Merasa bahagia, karena hujan semalam berhasil menyegarkan jalanan. Pohon-pohon mandi, walaupun masih kotor, jalanan pun dipel sepertinya, dan udara seperti menemukan kembali kesejukannya. Tuhan melukis ceria matahari dan awan pagi ini, dan embun tengah berkumpul lebih banyak di sawah.Oh aku menyukai suasana ini.

Oya, pagi ini pun aku kembali bersahabat dengan angin. Ya aku dan angin sering bermusuhan. Tapi, pagi ini kami damai. Bahkan, angin menolongku agar tidak terus gilak. Iya aku punya arti sendiri untuk mendefinisikan kata 'gilak' itu.

Pagi ini, aku sangat berterimakasih pada semesta. Terutama angin, kami berdamai dan angin menolongku. Walaupun, seluruh semesta pun menyemangatiku. Terimakasih Tuhan, anugerah pagi yg sangat kubutuhkan :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah