Sepotong 'kejujuran' di Papua


I’ve already read a short novel from my library and it was a good book. Sayangya itu novel kurang panjang, hihi sombong deh gue mentangmentang sering baca novel beratusratus halaman peace deeh

Buku yang gue baca ini, judulnya Tambelo Meniti Hari di Ottakwa. Pertama baca judulnya gue kira settingnya di Ottawa, eh pas liat sinopsisnya ternyata di Papua. Dari paragraph awal gue baca sinopsisnya, hati dan oikiran *caelah* gue udah nyuruhnyuruh baca ini novel atu tanpa kudu selsei baca sinopsisnya. Merasa terpanggil. Mungkin karena settingnya di Papua dan Papuanya itu di pedalamannya. Kisah cerita singkatnya sih orang yang terdampar di sebuah suku terpencil dan harus jadi guru di sana padahal tujuan utama dia bukan itu.

Novel ini, nyeritain gimana keadaan kota dan desa pedalaman itu senjang banget, beda 180 derajat. Dari mulai keseharian yang emang udah keliatan beda banget, sampe kepribadian. Namanya hidup di kota, entah di Jakarta atau di Surabaya sekalipun sarat akan sebuah kebohongan. Dinovel ini, kota besar yang diceritainnya itu Surabaya bukan Jakarta. Mungkin, bagi kita orang Bandung nganggep Surabaya walopun ibu kota provinsi ya kaya kotakota kecil lain di Jawa Barat nganggepnya tuh Bandung kota metropolitan bgt. tapi jangan salah, Surabaya ga kalah sama Bandung dibagian kehidupan metropoilitannya. Sama kok di Surabaya, orangorang yang tinggal dikota kaya artis baik di depan jahat di belakang. Jujur, satu kata yang gampang bgt diucapin tapi udah hilang dari pribadi orangorang kota. Itu yang diceritain dinovel ini.

Tapi, waktu si protagonist dateng ke suku itu kejujuran adalah hal yang nyata senyatanyatanya. Engga ada kebohongan ataupun muka dua. Kadang, kita sering underestimet sama sukusuku pedalaman yang terbelakang dan terkesan atheis. Apalagi suku Papua yang terkenal dengan kotekanya, hey gak semua suku di Papua pake koteka dan kerjanya cumen narinari atau perang antar suku doang. Ternyata, di pedalaman sana, ada suku yang beragama dan sangat menjunjung tinggi kejujuran.

Novel ini, ngingetin gue bahwa jujur adalah suatu sifat/perbuatan yang gampang banget diucapin tapi banget susah dilakuin. Bahwa sukusuku di Indonesia itu syarat akan pembelajaran hidup yang bermakna, bahwa Indonesia itu masih punya warga yang memliki sopansantun yang tinggi yang dulu dibanggabanggakan para pejuang kita ke dunia internasional.  Cumen, mereka kaya hilang kaya gak keliatan, ketutup sama orang Indonesia lain yang melupakan ajaran leluhurnya akan budaya sopan santun Indonesia yang luhur.

So for you guys, kita sebagai generasi penerus bangsa coba deh buat menghargai perbedaan dan lebih melihat sisi positif dari perbedaan dari negara Indonesia tercinta ini. Krisis moral di Indonesia masih bisa diatasi kok kalo kita membuka diri untuk belajar sama ahlinya, yaitu sukusuku asli Indonesia yang bertebaran di bumi pertiwi ini. Lets Try!! Ciao J

Komentar

  1. Absolutely agree,
    Tambelo novel has much impression on me.

    BalasHapus
  2. Hai May, aku suka postingmu ini. Izin share ya. Thx :-)

    BalasHapus
  3. Agreee. I've read this nvel 3yrs ago frm my library school and fnsh too partII "Kembalinya burung camar". Keep good reader.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah