Kandungan ayat 5-6 Q.S Al-Insyirah


Pelajaran Agama sepertinya selalu jadi obat bagi gue. Nampar. Yap nampar hati, lebih sakit rasanya daripada tamparan dipipi.

Setelah gue berhasil tersenyum dan dapet suntikan lebih semangat buat move on abis putus dulu. Selama taun ini, ko rasanya setiap materi Agama nampar gue mulu.

Tadi, gue abis belajar tentang Surat Al-Insyirah. Biasa sih awal semester emang bab pertamanya tentang bahas salah satu Q.S. Yang dipelajarin yaitu baca suratnya, hafalin artinya, dan bahas isi kandungannya. Salah satu ayatnya ada yg berarti ‘Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan’ guru gue bilang “Tadi Rasulullah tidak diberi wahyu selama 2-3bulan, ia sampai terus bertanya-tanya. Tapi Rasulullah tetap sabar menunggu petunjuk Allah, dan akhirnya Rasulullah mendapat wahyu surat ini dan dihapuskan segala bebannya. Maka dari itu, bila kita mendapat ujian dan cobaan dari Allah tetaplah bersabar dan tawakal sesungguhnya balasan yg didapat sangat berharga. Allah dapat meningkatkan deraha kita” gue mulai ketampar.”Sebagai contoh, orang yang sakit. Orang yang sudah sakit lama bertahun-tahun, pada akhirnya ia akan diberi kemudahan. Mudah rezeki, menjadi pintar, terus beruntung. Banyak cerita orang yg sakit terus meninggal, dan dia sudah pasti masuk surga” dan gue teringat seorang teman, makin tertamparlah gue.”Karena sebenarnya, orang yg sakit itu sedang digugurkan dosadosanya, digugurkan sedikit demi sedikit” penyesalan ada pada diri gue.

Kurang dari setahun yaAllah, gue udah buktiin semua katakata yg dibilang Guru Agama itu. Kurang dari setahun gue disajikan film nyata tentang orang sakit yg terus diberikan keberuntungan atau bahkan mukjizat dari-Mu. Kurang dari setahun gue stress, gue jengkel, gue aneh, tapi gue lebih ngerti gimana dunia ini sebenarnya. Dan kurang dari satu minggu, gue berhasil menghancurkan silahturahmi yang meninggalkan doktrin hebat diotak gue. Mulai kurang dari satu minggu itulah, entah berapa dosa yg telah gue kerjakan demi menenangkan diri gue sendiri yang sampai saat inipun gapernah gue bisa tenangkan.

Lamunan gue pecah saat Guru Agama gue bilang “Ada yang punya cerita yang berkaitan dengan ayat ini? Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan? Ayo pasti ada. Ko jadi pada diem?” pengin rasanya gue buka mulut, dan cerita bahkan tanpa sensor. Tapi dia beruntung, memang selalu beruntung. Mulut gue tetap terkunci, hingga cumen tamparan yang gue dapet. Tamparan hati, bahwa gue sungguh amat salah selama ini. Allah, tolong aku…………..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syair: Rindu Dendam

Sepotong 'kejujuran' di Papua